Wakil Gubernur Kepri, Isdianto minta masyarakat berperan aktif menangkal paham radikal dan terorisme.

beritakepri.id, BATAM — Wakil Gubernur Kepri, Isdianto mengatakan wilayah perbatasan menjadi garda terdepan dalam hal pengawasan terhadap keluar masuk serta penyebaran jaringan terorisme. Karena itu semua harus berperan dan meningkatkan pengawasan terhadap orang, bahan peledak dan peredaran dana ilegal.

“Para pelaku terorisme masuk dengan pemanfaatan lemahnya sistem pengawasan di perbatasan. Karena itu, kita harus tingkatkan. Masyarakat harus ikut berperan aktif,” kata Isdianto saat Dialog Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Terorisme di Kawasan Perbatasan di Provinsi Kepri, di Haris Hotel Batam, Kamis (22/11).

Baca Juga :  Dilantik Bersamaan HPN, Mappilu PWI Sudah Bisa Melakukan Tugas

Isdianto berharap kegiatan ini dapat menjadi peningkatan komunikasi dan koordinasi antara pemerintah daerah dan masyarakat termasuk aparat keamanan dalam penanganan paham radikal. Karena ini juga dalam upaya menjaga ketentraman dan ketertiban masyarakat.

Dia ingin semua pihak menanfaatkan dialog ini untuk membahas langkah pensinergian dalam menanggulangi berbagai permasalahan di masyarakat. Khususnya dalam hal pencegahan dan penanganan masalah radikalisme dan terorisme.

Wakil Gubernur Kepri, Isdianto.

Isdianto memaparkan kondisi geografis Kepri yang berbatasan dengan banyak negara. Sebelah utara perbatasan dengan Vietnam dan Kamboja dan sebelah barat berbatasan dengan Singapura dan Malaysia. Di timur berbatasan dengan Malaysia dan Kalimantan Barat. Apalagi ada sekitar 125 pelabuhan tikus.

Baca Juga :  Tinjau Pilkades Serentak , Bupati Bintan Harapkan Ini

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Reni Yusneli mengatakan ada kelompok-kelompok tertentu yang mempunyai paham-paham radikal dan ingin memecah belah antara sesama. Tapi itu jangan sampai terjadi karena masyarakat sudah bersatu mempunyai komitmen sebagai suatu negara yaitu NKRI.

Para pelaku terorisme masuk dengan pemanfaatan lemahnya sistem pengawasan di perbatasan.

Menurut Reni, Indonesia adalah bangsa yang hidup dalam suasana pruralitas suku, ras, budaya dan agama sehingga terbiasa dengan perbedaan. Namun semua menerima perbedaan tersebut dengan prinsip hidup berdampingan secara damai.

Prinsip ini, kata Reni, sudah ada sejak lama dan berjalan dengan baik. Dengan semangat kesatuan yang terekspresikan melalui semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Baca Juga :  Covid-19 Kepri Melonjak Tembus 1.803Kasus

“Tapi selalu ada yang menganggu dengan radikalisme. Memang tidak ada satupun negara yang bebas dari ancaman radikalisme. Oleh karena itu kita harus tetap waspada dan berhati-hari terhadap ancaman apapun,” kata Reni.(BK/R)

Memuat...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here