Silaturahmi AWe dengan warga dari Komunitas warga Batak Sumatera Utara Kota Kijang dan sekitarnya, Rabu (30/10/2020)

beritakepri.id, KIJANG – Banyaknya tenaga kerja (naker) asing di PT BAI, Bintan dikritisi Alias Wello, cabup Kabupaten Bintan. Karena, jenis pekerjaan yang dilakukan naker asing itu bukan jenis pekerjaan skill.

Akan dipahami jika pekerjaan yang dilakukan naker asing, adalah jenis kerja yang butuh skill khusus.

“Oke lah, kita memang butuh investasi. Itu jelas dan kita juga sangat mendukung setiap investasi yang masuk.

Tapi jangan sampai pulak jenis kerje yang konstruksi pun dibagi ke orang asing.

Baca Juga :  Bupati Bintan Inginkan Ramadan Semarak dengan Bacaan Al-Quran

Kalau jenis kerje-kerje konstruksi banyak anak kite yang mampu. Itu patut dikritisi.

Tapi kite tak tau, ade tak komitmen tertentu yang diteken Pemda dengan investor, sewaktu akan masuk,” kata Alias Wello menjawab pertanyaan warga dari Komunitas warga Batak Sumatera Utara Kota Kijang dan sekitarnya, Rabu (30/10/2020).

Pertanyaan serupa datang dari warga yang ditemui AWe di sejumlah tempat di Bintan.

Ada dari Bintan Utara, Kawal, Bintan Timur, juga warga Galang Batang. Termasuk, keluhan ganti rugi lahan warga oleh PT BAI dari warga Galang Batang.

Baca Juga :  Bupati Bintan Minta Sistem Penerimaaan CPNS Dievaluasi

Kembali ke soal komitmen calon investor dengan Pemda, Awe mengungkapkan di Lingga setiap calon investor disodorkan 3 poin komitmen.

1. Berikan kepastian jaminan anak-anak lokal bisa bekerja di perusahaan itu.
2. Investor mau bekerjasama dan bermitra dengan badan usaha lokal. Seperti BUMD, BUMDes atau Perusda atau yang direkomendasikan Pemda.
3. Jaminan pengelolaan lingkungan yang baik.

“Kalau investor mau meneken 3 poin itu, baru saya kasih rekomendasi. Gratis,” tegas AWe.

Mungkin, imbuh AWe, “Mungkin di awal tidak ada komitmen seperti di Lingga. Hal-hal seperti ini yang harus diperbaiki ke depannya,” jelas AWe.

Baca Juga :  Alias Wello Ziarah Makam Daeng Celak di Sela Pemeriksaan Kesehatan

Terkait keluhan yang acap diapungkan calon investor, yakni kurangnya kualitas naker lokal, AWe mengatakan diskresi Pemda yang menjadi penentunya.

“Pelatihan naker sangat minim. Bahkan, Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada pun terbiar. Betul, kan?

Soal kualitas naker jawabannya ade di Pemda sendiri. Nak urus atau tidak. Ke depan, ini harus diperbaiki,” ucap AWe. (BK/R)

Memuat...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here