Beranda Kolom Opini Pendekatan Etika Lingkungan dan Ekologi Dalam Rangka Pembangunan PLTS di Pulau –...

Pendekatan Etika Lingkungan dan Ekologi Dalam Rangka Pembangunan PLTS di Pulau – Pulau Provinsi Kepri

0
Ir Ahmad Muda Bahri

Oleh Ir Ahmad Muda Bahri
Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan UMRAH ,Tinggal di Batam- Kepri

I PENDAHULUAN

Diera digitalisasi ini rasanya tidak ada alat alat bantu manusia  yang tidak memakai energy listrik .Dapat dibayangakan bagaimana jadinya manusia modern saat ini jika hidup tampa listrik ,praktis  bekerja dikantor , menanak nasi ,mencuci baju ,menggiling bumbu dapur , menonton tv hingga mengaktifkan  HP tidak akan dapat berlangsung dan dilakukan.

Ketidak berdayaan masyarakat kota besar terlihat saat listrk padam ,hal ini menunjukan  bahwa masyarakat kota sudah hampir seluruh  aspek kehidupanya tergantung dengan listrik.

Saat ini setelah terjadinya perang antara Rusia dan Ukrania dimana diketahui Rusia termasuk pemosok minyak bumi ,batu bara dan gas terbesar dunia .hal ini memicu kelangkaan bahan bahan  bakar fosil  dan semakin membuat bahan bakar tersebut  semakin mahal dan kadang terganggu  pasokanya .Keberadaan sumber energy fosil ini juga kita ketahui semakin hari semakin menipis maka sudah saat nya negara negara pengguna ataupun pengimpor energy fosil beralir ke energy terbarukan mengingat semakin besarnya kebutuhan energy listrik dimasa yang akan datang.

Negara Singapura salah satu negara di Asean yang menyadari perlunya keberlangsungan energy bagi negaranya untuk tetap mempertahankan negara mereka sebagai pusat bisnis dunia .Sebagai pusat bisnis di asia tenggara maka  kebutuhan energy listrik bagi mereka haruslah  tetap terjaga pula  .Saat ini sumber energi yang tersedia di negara tersebut lebih di dominan dari energi fosil  .Untuk itulah maka ada rencana negara tersebut beralih ke energy terbarukan .Dan hal ini menjadi rencaan stategis bagi Negara tersebut .Pemilihan energy terbarukan terbukti lebih ramah lingkungan dan  menjawab tuntutan penurunkan dampak pemanasan global akibat emisi carbon dari buangan karbon monoksida.

Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang murah dan ramah kingkungan pemerintah Singapure sudah membentuk perusahaan khusus yang mengimpor energy .Perusahan tersebut berencana mengimpor tenaga listrik yang berasal dari tenaga surya yang rencanaya akan dibangun tersebar di pulau pulau Provinsi Kepulauan Riau dengan kapasitas 3,5 GW Solar VP oleh investor Quantum Power Asian dan ib vogt selaku dua perusahaan pengembang  PLTS skala dunia selaku  importir listrik Negara Singapura dari Kepri ( sumber KOMPAS 21 April 2022 ) dengan nilai investasi yang cukup besar yakni mencapai  71,8 T ,dan ini merupakan proyek PLTS terbesar didunia yang direncanakan di bangun.

Baca Juga :  Sangkaan Buruk Terhadap Pekerja Pers di Natuna

Secara geografis provinsi Kepulauan Riau sangat idial bagi pembanguan PLTS ,hal ini didasarkan karena Kepri sepanjang tahun disinari matahari dan juga  terketak di garis khatulistiwa  ,kemudian pulau pulau  kecil dan belum berpenghuni di Kepri juga masih banyak yang dimungkinkan untuk di jadikan ladang PLTS.

 

Jika melihat peta besar rencana pembangunan PLTS di Kepri maka banyak pulau pulau kecil yang ada penduduknya ataupun yang tidak berpenghuni dijadikan kawasan ladang PLTS sebut saja pulau pulau di Kabupaten Karimun masuk dalam rencana kawasan pembangunan PLTS.

II TINJAUAN ETIKA LINGKUNGAN DAN EKOLOGI

2.1 KONSEP BIOCENTRIS

Sebagai daerah tujuan investasi maka Kepri sangat bersyukur menjadi lokasi rencana pembangunan PLTS untuk memasok listrik ke Singapura .namun begitu perlu adaanya kajian yang menyeluruh dan detail akan dampak dampak social maupun ekologi terhadap rencana pembangunan tersebut .Jika melihat dari peta rencana pembangunan PLTS maka pendekatan etika lingkungan yang bersandar akan paham Biocentris harus menjadi landasan bagi rencana pembangunan tersebut .Paham biocentris menekankan pada penghargaan yang sangat tinggi akan keberadaan seluruh mahluk hidup apapun namanya bukan saja hewan ataupun tumbuhan . Intinya adalah manusia mempunyai kewajiban moral terhadap keberlangsungan dan terpeliharanya alam yang bersumber dan berdasarkan pada pertimbangan bahwa, kehidupan adalah sesuatu yang bernilai dan harus tetap lestari sampai kapanpun.

2.1 KENAIKAN SUHU AKIBAT PENEBANGAN HUTAN

Rencana pembangunan PLTS yang berada  dipulau  kecil baik berpenghuni maupun tidak ,maka ketika ladang penduduk ataupun hutan disatu pulau  ditebangi keseluruhanya  maka pasti akan  tergangu ataupun berubah ekologi dipulau  tersebut .Kita berharap semua bahwa dengan listrik tenaga surya  akan mengurangi polusi  karbon monoksida akan tetapi jika akibat penebangan hutan malah  akan menaikan suhu bumi atau ditempat tersebut  maka kegiatan itu hanya memindahkan maslah kesatu tempat ke tempat lainya .Pendapat bahwa penebangan hutan erat kaiatanya dengan suhu  diambil dari  tulisan majalah ilmiah  The Conversation ( dari judul bahasa asing yang diartikan :  Deforestasi memanaskan suhu lokal hingga 4,5 dan menyebar ke sekitarnya sampai radius 6 km ,terbit  4 Februari , 2022 4.00pm WIB )  yang berbasis di Australia .Tulisan tersebut harus lah dibuktikan secara ilmiah namun begitu informasi awal terhadap dampak perusakan hutan wajib kita antisipasi .Dari tulisan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin luas areal hutan yang hilang maka semakin besarlah kenaaikan suhu disekitar kawasan yang berdampak.

Baca Juga :  Fenomena Hibah Alm. Akidi Tio dan Keluarga Sebesar Rp. 2 Triliun dalam Membantu Penanggulangan Covid-19

2.3 DEPOSIT AIR TANAH DI PULAU PULAU KECIL KEPRI 

Seperti diketahui pula bahwa pulau pulau yang ada di Kepri terbentuk dari susunan batuan terutama batu granit yang muncul dipermukaan laut  ,sehingga kerapatan tanah dipulau pulau yang ada di Kepri  tidak meresap dengan baik dan dalam  itu artinya air hujan yang turun tidak tersimpan dengan banyak dan dalam sebagai air tanah sehingga  pengurangan pepohonan dan hutan dipulau pulai kecil akan semakin mempersulit ketersediaan air baku .

III ALTAERNATIF PILIHAN  KEBIJAKAN

3.1 MEMBUAT BLOK BLOK KAWASAN RENCANA

Sebagai manusia yang dikaruniai oleh Tuhan daya analisa dan berfikir maka apapun dampak yang terjadi atas suatu kegiatan maka pasti ada alternative dan teknologi yang mengatasinya  minimal mengurangi dampak yang serius terhadap kegiatan yang terjadi . Kenaikan suhu akibat penebangan hutan dapat diminimalisir dengan upaya menjaga 10% angka tutupan hutan di suatu daerah atau kawasan ,hal ini bisa mengurangi risiko pemanasan sekitar 0,2℃.Menurut studi temperatur  tidak terlalu naik apabila hanya sebagian kecil kawasan hutan yang hilang. Artinya, jika deforestasi terjadi di suatu area kecil-kecil misalkan kawasan dibagi  dalam blok-blok tertentu, maka risiko kenaikan suhu tak terlalu parah.Itu berarti juga pengaruh buffer area bagi kawasan berpenduduk di pulau kecil harus tersedia .

3.2 MEMBUAT EMBUNG DI PULAU RENCANA

Hasil beberapa studi menunjukkan bahwa kelimpahan air hujan di pulau pulau di Kepri   tidak tersimpan maksimal sebagai air tanah karena keterbatasan luas daerah tangkapan serta kapasitas simpan media akuifer yang didominasi oleh satuan batuan dengan tingkat kepadatan yang tinggi .hal ini diperparah jika pulau pulau  tersebut sudah terbukanya  sebagai kawasan PLTS .Untuk itu keberadaan embung/ waduk atau storage menjadi sangat penting dipulau pulau yang menjadi rencaan pembangunan PLTS agat ketersediaan air baku bagi penduduk pulau masih terjamin  .

Baca Juga :  Peran Mahasiswa Dalam Pengawasan Pilkada dimasa Pandemi Covid-19

3.3 ALTERNATIF LOKASI DAN ASPEK LAINYA

Jika melihat dibeberapa tempat yang sudah melaksanakan pembangunan PLTS ini ,maka ada beberapa pilihan lokasi yang masih dimungkinkan untuk dibangunya PLTS seperti di bibir pantai atau diperairan dipulau pulau kecil tersebut sehingga hutan mangrove tidak rusak ataupun hilang .Dengan cacatan instalasi pengumpul daya dan pengatur bebanya berada di darat ,dengan mempertimbangkan kedalaman dan arus yang ada di perairan di pulau pulau tersebut.

Kemudian PLTS yang didarat dipilih konstruksi yang memiliki tiang sehingga beberapa tanaman masih dapat tumbuh dibawah konstruksi PLTS tersebut .Selanjutnya setiap pulau pulau yang dipakai untuk PLTS di rencanakan terlebih dahulu RDTR dan RTH bagi masing masing pulau yang dijadikan lapangan PLTS ,termasuk membuat hitungan dan kajian valurisasi atas potensi karbon dan nilai ekonomis dari yang hilang akibat penebangan hutan

Saat tiba masa konstruksi maka hasil tebangan kayu kayu yang bernilai ekonomis dapat dikelola oleh masyarakat setempat atau dinas terkait untuk kesejahteraan masyarakat pulau  itu juga .Kemudian masyarakat tempatan dilibatkan dalam  aktifitas pembanguan seperti merekrut penduduk pulau  menjadi pekerja di saat konstruksi dan operasional dengan catatan yang memenuhi kualifikasi yang diminta.

Hal yang penting juga dilakukan oleh penyedia listrik PLTS memberi bantuan listrik gratis bagi rumah tangga yang layak diberi di pulau  pulau tersebut  ,termasuk juga menjual listrik kepada PLN terhadap daerah yang mengalami devisit daya listrik .Dan terakhir ikut memajukan ekonomi rumah tangga dan industry kecil dengan memberi bantuan atau pinjaman modal bagi usaha kecil dan menengah yang ada di pulau  tersebut  .Sehingga dampak social dan ekonomi akan keberadaan PLTS benar benar dirasakan masyarakat setempat .Jika poin poin diatas  dapat berjalan maka pihal yang membanguan PLTS sudah ikut membantu Negara dalam mensejahterakan penduduk  dan ini menjadi tujuan pembangunan Negara dimana kita ketahui bahwa pembangunan dikatakan berhasil bila  kesejahteraan terujud bagi rakyatnya  dan alam tetap lestari dan terjaga.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here