free page hit counter
Opini

Siapa Yang Memulai “Satu Bahasa”?

Oleh: TD. Asmadi, Ahli Bahasa, Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS).

Butir ketiga dari Sumpah Pemuda berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.

Maknanya, bahasa-bahasa lain, bahasa-bahasa dari daerah tetap dihargai dan boleh hidup dan bahkan perlu dilestarikan. Namun, mengapa ada lagu berjudul “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa”? Itu kan berarti, hanya boleh satu bahasa di Indonesia?

Lagu itu ciptaan Liberty Manik, pemuda kelahiran Sidikalang, Sumatera Utara, yang bersekolah menengah di Yogyakarta kemudian meneruskan kuliah di Universitas Berlin di Jerman. Ia lulus dengan tesis tentang musik Arab abad pertengahan dan kemudian mengajar di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta.

Lagu tersebut tercipta ketika Indonesia sebagai negara baru, diterpa berbagai kesulitan dalam negeri, juga tekanan oleh bekas penjajah Belanda yang ingin bercokol kembali. Lagu diperdengarkan tahun 1947, ketika Manik berusia 23 tahun.

Lagu tersebut oleh Forum Bahasa Media Massa (FBMM) dijadikan penutup untuk diskusi-diskusi bahasa yang dilakukan. Semua peserta diskusi berdiri dan kemudian menyanyikan “Satu Nusa Satu Bangsa” itu. Tujuan FBMM adalah dua baris terakhir lagu tersebut yaitu “Nusa Bangsa dan Bahasa” lalu “Kita Bela Bersama”.

Itu yang ingin dicapai, agar semua membela bahasa nasional kita, bahasa persatuan kita, dan bahasa negara kita. Bukan menjadikan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya bahasa di negara kita. Saya kira juga itu maksud Liberty Manik menciptakan lagu itu: agar Indonesia bersatu dalam semua unsurnya.

Apakah Manik yang memulai “Satu Bahasa”?

“Satu Bahasa” itu ternyata dimulai oleh wartawan yang pada Kongres Bahasa Indonesia Pertama tahun 1938 memberi prasaran. Wartawan yang tahun 1926 pada Kongres Pemuda I menyarankan Muhammad Yamin mengubah “Bahasa Melayu” menjadi “Bahasa Indonesia” pada butir ketiga usul Yamin yang akan dijadikan putusan kongres.

Baca Juga :  Catatan Gelaran Parade Tari Daerah 2019 : Jempol Untuk Penata Tari Muda

M. Tabrani, wartawan tersebut, pada Kongres Bahasa di Solo itu memberi prasaran berjudul “Mencepatkan Penyebaran Bahasa Indonesia”.

Pada butir kedua—satu dari enam butir prasaran Tabrani—seperti yang dicatat pada buku “Setengah Abad Bahasa Indonesia” karangan Yusuf Abdullah Puar (Idayus, Jakarta, 1980), tertulis: 2. Gerakan bahasa Indonesia bukan gerakan merombak, akan tetapi gerakan menyusun perujudan dari sumpah kita.

a. Kita bertanah satu, yaitu tanah air Indonesia.
b. Kita berbangsa satu, yaitu bangsa Indonesia.
c. Kita berbahasa satu, yaitu bahasa Indonesia.

Bisa jadi itu yang menjadi motivasi Manik menciptakan lagu “Satu Nusa, Satu Bangsa” tersebut.
Bagi kita tetap “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing”.

Disiarkan pertama kali di akun facebook Tede Asmadi, 27 Oktober pukul 23.26

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *