Surya Makmur Nasution

Anak milenial atau generasi milenial. Kini, istilah tersebut begitu sering diperbincangkan di ruang publik dan media sosial. Terlebih lagi menjelang Pemilu 2019, generasi milenial menjadi daya tarik dan rebutan para Capres serta parpol peserta Pemilu.

Kalangan milenial menjadi perhatian karena jumlahnya yang signifikan pada Pemilu 2019 mendatang. Dari 185 juta pemilih terdapat 40 persen pemilih milenial (usia 17 s/d 35 tahun).
Posisinya sungguh seksi dan menarik perhatian. Itulah kenapa pasangan Capres dan parpol dengan berbagai cara membuat kreativitas agar menarik perhatian sesuai dengan lifestyle anak milenial.

Pertanyaannya, bagaimanakah warga milenial menyikapi Pemilu 2019? Akankah mereka pasrah hanya sebagai obyek rebutan para tim kampanye?

Sejarah membuktikan, kaum muda sejak dulu sudah membuat sejarahnya di republik ini. Peringatan atau perayaan 90 tahun Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928-28 Oktober 2018) menjadi momentumnya.

Baca Juga :  Sekda Kepri Ajak Semua Elemen Membangun Sinergitas

Para pemuda yang terdiri dari berbagai etnis suku bangsa dan agama dari berbagai daerah berbeda, bersumpah setia untuk satu: Indonesia.

“Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku Bertanah Air yang Satu, Tanah Air Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku Berbangsa yang Satu, Bangsa Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku Berbahasa yang Satu, Bahasa Indonesia.”

Itulah ikrar anak-anak muda saat itu, dalam Kongres Pemuda Indonesia II di Batavia, Jakarta, terdiri dari Jong Java, Jong Banten, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Sumatera dan Jong Islamiten Bon, dan lainnya.

Kini, di era reformasi (sejak 1998) yang dikawal oleh kawan-kawan mahasiswa dan anak-anak muda lainnya, Indonesia diselamatkan dari pemerintahan otoriter rezim Orde Baru. Tuntutan reformasi antara lain adalah menjadikan Indonesia negara demokratis, bebas korupsi, pers bebas, sembako murah dan tegakkan hukum dan HAM secara adil.

Baca Juga :  Stanley dan Mogulisme Media yang Anjay Sekali

Meski, era reformasi produk politiknya tidak seideal yang dicita-citakan, salah satu yang terlihat hingga kini masih dinikmati masyarakat adalah kebebasan pers. Bulan madu kebebasan pers saat ini boleh dikatakan masih ok, dan masih bisa diharapkan, meski terasa juga ada intervensi. Sehingga adanya medsos, menjadi alternatif informasi untuk mengimbangi media mainstream.

Di sisi lain, di era reformasi saat ini banyak aktivis yang masuk dalam elite kekuasaan dan menjadi bagian dari rezim Orba. Hebatnya lagi, bagian dari Orba masa lalu ikut di dalam kekuasaan, dengan bermetamorfosis ganti baju dengan warna beda.

Baca Juga :  Potensi Wisata Kukupluyung Anambas, Kini Menjadi Zona Inti

Menurut Saya, warga milenial, yang ditandai sebagai generasi ICT (informasi komunikasi dan teknologi) cukup cerdas menyikapi pilihan politiknya. Warga milenial cukup banyak memperoleh informasi. Meski pun, tidak semua warga milenial melek dan peduli untuk urusan politik kekuasaan.

Akan tetapi, catatan Saya, warga milenial sangat peka dan cerdas dalam menyikapi ketidakadilan, kemiskinan, pengangguran dan sulitnya ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi 5 persen dan USD Rp 15.200, adalah fakta saat ini.

Pertanyaannya, siapa yang menjadi daya tarik warga milenial pada Pilpres dan Pemilu 2019, tidak mudah memetakannya.

Warga milenial, dengan ICT nya dapat menjadi pemilih silent majority yang bisa memberi kejutan pada Pemilu 2019.

Batam, Rabu 24 Oktober 2018/15 Safar 1440H.

Memuat...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here