free page hit counter
Berita UtamaNasionalPariwisata

Pasar Kaki Langit Jogja; Harmoni Apik Kearifan Lokal, Alam dan Jagad Digital

Pasar Kaki Langit memang tak pernah menyandang sebagai destinasi nomor wahid di Jogjakarta, laiknya Candi Borobudur atau Jalan Malioboro yang melegenda. Tapi kemunculannya mencuri perhatian. Kehadirannya menyuntik gairah baru destinasi kekinian berkat kelihaian memadupadankan alam dan kearifan lokal dalam suguhan yang atraktif, unik dan tentunya milenial!

Penasaran dengan labelnya sebagai destinasi “zaman now,” saya bersama sejumlah kawan dan Alenka Khaliska, asal Slowakia mendatangi Pasar Kaki Langit akhir September lalu. Road trip saya dimulai sejak pukul tujuh pagi, dari Kota Jogjakarta yang lumayan lengang di hari libur, menuju Mangunan, tempat Pasar Kaki Langit bersemayam.

Sekitar pukul delapan pagi, setelah melalui jalan berkelok-kelok di antara pepohonan pinus yang rapat dan menanjak, sampailah kami di gerbang Pasar Kaki Langit yang dijagai pria setengah baya berbalut baju khas Jawa, lengkap dengan blankon.

“Sebelah sini, Mas, lurus terus nanti ada parkirannya di sana,” serunya.

Mengikuti aba-abanya, kendaraan yang kami tumpangi melipir ke arah jalan menurun lalu memarkirkan di sisi jalan persis di pinggir sebuah bangunan semi terbuka beratap genteng coklat kemerahan berbentuk limasan.

Kami berjalan tiga empat tombak dari tempat parkir, menuju ke arah kerumunan orang. Sebuah baliho bertuliskan “Pasar Kaki Langit” terpampang besar, menyambut kami. Beberapa baris di bawahnya, tertera info-info iven reguler yang jadi suguhan Pasar Kaki Langit. Ya, kami telah berada di beranda depan Pasar Kaki Langit yang pagi itu, riuh rendah. Hampir tiap sudut, tak luput dijejali orang.

Saya mendekati sebuah bangunan sederhana berplang “Gubuk Lurah Pasar” yang teronggok di sisi depan. Dua pria berblankon, terlihat sibuk dikepung pengunjung. Agak menunggu cukup lama, baru setelah reda, saya sambangi dan menyapa keduanya.

“Selamat datang, Mas. Mau tukar uang? Rupiah tidak berlaku di sini, kalau mau belanja, harus ditukarkan ini,” sapa satu diantaranya sembari menunjukkan bulatan-bulatan kayu menyerupai koin bertuliskan angka 1,5 dan 10, mewakili pecahan nominal Rp1.000,- Rp5.000,- dan Rp10.000,-.
Berperawakan kecil, pria yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Suparman ini ternyata adalah “lurah” penanggungjawab Pasar Kaki Langit. Dari perkenalan singkat itu, saya kemudian beroleh informasi detil menyangkut Pasar Kaki Langit sejak pencetusan ide hingga kini merekah menjadi salah satu destinasi paling hits di Jogjakarta.

Suparman, Lurah Pasar Kaki Langit dikerubuti pengunjung yang ingin menukarkan uang dengan koin kayu khas Pasar Kaki Langit (Edi Sutrisno)

Di tengah kesibukannya menjagai pengunjung, Suparman menyempatkan diri membawa saya tur keliling pasar. Sementara Alenka bersama seorang teman, saya biarkan menyeruput es timun yang disajikan dalam mangkuk tempurung kelapa, di satu sudut zona kuliner Pasar Kaki Langit.

Baca Juga :  Gubernur Minta Setiap Individu Bisa Jadi Contoh yang Baik

Bersama Suparman, saya asyik berkeliling pasar, memelototi satu-satu aneka rupa kuliner khas Jawa yang dijajakan di lapak-lapak terbuka beratapkan alang-alang. “Orang ramai datang ke sini ini, ya salah satunya karena alasan ini, Mas. Penganan-penganan ini,” urainya.

Brongkos, satu dari seabrek menu “ndeso” yang ditawarkan penjaja kuliner di Pasar Kaki Langit (Edi Sutrisno)

Di tengah modernitas zaman yang makin pesat, katanya, Pasar Kaki Langit berusaha keras mendekatkan jarak antara penganan tradisional tempo dulu dengan anak-anak, generasi zaman now.

Tak heran, kalau di momen-momen belanja dan menyantap makan, para pengunjung selalu menyempatkan ber-selfie-ria bersama aneka hidangan siap makan, berlatar plang-plang kayu bertuliskan menu tradisional.

“Sekarang kan, orang kalau makan, di mana-mana difoto dulu baru dimakan. Nah, kalau penganannya otentik dan ndeso seperti penganan di sini, pasti hasilnya asyik. Itulah pembedanya Pasar Kaki Langit. Kulinernya khas,” imbuhnya.

Pada faktanya, sajian gastronomi Jawa memang terhidang beragam di pasar ini. Saya, orang Jawa yang lahir dan tumbuh besar tanah Sumatera, harus mengernyitkan kening lantaran awam dengan nama-nama dan wujud penganan yang dijajakan, kecuali beberapa seperti wedhang uwuh, gudeg, gatot, tiwul, chenil, telo. Di luar itu, mendadak isi kepala saya blank ketika harus disebutkan gembrot, mie letek, brongkos, bledak!

Deretan lapak kuliner yang menjajakan rupa-rupa penganan khas tradisional. Mengangkat gastronomi Jawa ke ranah generasi milenal adalah salah satu goal utama Pasar Kaki Langit. (Mas Adies)

Tentang penganan tipikal Jawa ini, hari itu saya seperti ketiban berkah. Suparman “menculik” kami dari kerumunan orang, membawa kami ke Homestay Rejo yang lokasinya hanya berjarak sepelemparan batu dari lokasi pasar, bertengger di sudut agak ke arah bukit. Oleh Suparman, kami diajak blusukan melihat dapur tradisional milik Yu Ngatir yang masih setia menggunakan tungku dari tanah liat dan mengandalkan kayu bakar sebagai sumber pengapian.

Sambil menyeruput kopi, kami berbincang dengan Yu Ngatir, yang tengah memasak penganan untuk para pengunjung. Kesempatan ini tak disia-siakan Alenka untuk belajar memasak dengan cara-cara lama itu. Suparman bertutur, selama ini Pasar Kaki Langit tak hanya menyajikan makanan khas lokal, tapi juga membuka cooking class bagi pengunjung seperti kelas memasak tiwul. Sempat beberapa bulan lalu, sekelompok wisman asal Malaysia mencoba kelas ini. Teranyar adalah Nick Molodysky, food blogger terkenal pemilik akun Instagram @masak2dengannick yang memiliki follower lebih dari 76 ribu.

Lepas dari dapur Yu Ngatir, kami beringsut menuju Homestay Habibi. Masih di-guiding Suparman, dipertemukanlah kami dengan Sunardi, sang pemilik. Siang itu, ia tengah sibuk melayani puluhan pengunjung yang duduk rapi mengikuti kelas meramu jamu. Kami pun ikut nimbrung dan di sela-sela itu, Sunardi menawari Alenka untuk menjajal meracik jamu.

Tanpa ragu, Alenka duduk bersimpuh, laiknya simbok penjual jamu, menumbuk kencur yang diracik dengan beras dan aneka bahan khas dalam lesung kecil. Ia juga menyempatkan diri merebus dan mengakhiri dengan menyeruput jamu beras kencur buatannya.

Baca Juga :  Lindungi Sumber Daya, Tegakkan Kedaulatan Bangsa

“Jamu ini enak. Luar biasa, ini pengalaman pertama seumur hidup,” serunya.

Tur kuliner di homestay ini tak hanya berakhir di jamu. Saya lagi-lagi beroleh berkah karena diberi kesempatan Suparman mendengarkan penjelasan ihwal Desa Wisata Kaki Langit, langsung dari sang Kepala Desa Purwo Harsono. Di depan para pengunjung, Purwo menjabarkan mengapa desa wisata ini dinamai Kaki Langit, filosofi serta konsep-konsep pengembangannya hingga mampu menyabet seabrek penghargaan baik di tingkat kabupaten hingga level nasional.

Alenka Khaliska, bule asal Slowakia menjajal serunya bermain gasingan (gasing) dipandu Fahlul Mukti, salah satu tokoh penggagas Desa Wisata Kaki Langit sekaligus pemilik Homestay Sahara (Mas Adies)

Touring kami berlanjut ke Homestay Sahara yang digawangi Fahlul Mukti. Pria bersahaja ini menyambut kami di depan sebuah gazebo, sambil menyeruput kopi. Kopi kedua kami siang itu.

“Desa wisata ini sejatinya sudah kami gagas sejak tahun 2014. Itu semua berangkat dari keinginan kami menggugah warga desa agar sadar wisata,” terangnya.

Fahlul menuturkan, justru tidak terbetik sedikit pun dalam dirinya untuk mencita-citakan warga desa bertransformasi dari masyarakat agraris menuju pelaku wisata murni. Yang terpenting baginya adalah membiarkan warga Mangunan tetap dengan kearifannya tersendiri.

“Mempertahankan orisinalitas itu tujuan kami. Namun pada saat bersamaan sadar wisata harus disesapkan pada sanubari setiap penduduk. Perlahan, warga di sini sudah melek wisata. Contoh kecil, kita sudah tidak melihat lagi warga yang menjemur baju di depan rumah,” katanya.

Sejak digagas menjadi desa wisata, bahkan kini, ungkap Fahlul, kesadaran warga akan wisata bolehlah dibilang telah naik kelas. Hal itu tidak saja tercermin dalam sikap tapi berwujud nyata dengan keberadaan homestay yang sampai kini jumlahnya sudah mencapai 25 buah.

“Kita terus semangati mereka agar berinovasi dan berkreasi. Jadi sekarang, masing-masing homestay sudah punya “brand” karakteristik tersendiri yang bisa dijual kepada para tamu,” lanjutnya.

Kami akhiri obrolan dengan membuat lukisan kayu. Di gazebonya yang mungil ini, Fahlul menyediakan lempengan-lempengan kayu untuk pengunjung yang ingin mencoba melukis menggunakan solder. Alenka, lagi-lagi tak menyia-yiakan waktu menjajalnya. Bahkan sempat diajari Fahlul memainkan gasing Jawa di atas lempengan meja bulat yang ada di depan gazebo.

Waktu tak terasa berjalan cepat. Usai pamit dari Fahlul, kami bergerak kembali ke Pasar Kaki Langit. Makin siang, pasar ini justru tak kehilangan riuhnya. Puluhan pengunjung masih berjejal di sejumlah titik. Spot-spot berselfie di Pasar Kaki Langit memang tak melulu di gerai-gerai kuliner. Ada dua spot wajib kunjung yang selama ini jadi ajang ritual berswafoto. Satu titik, berada di sudut atas berlatar pohon beringin tinggi menjulang yang siang itu, dipenuhi sekelompok anak muda ber-outbond.

Terbangun dari material bekas luku (bajak sawah), spot ini tak pernah sepi pengunjung, karena memang menyuguhkan background view yang instagrammable.

Sekumpulan mahasiswa yang tengah melakukan aktifitas outbond, menyempatkan foto bersama di salah satu spot selfie favorit pengunjung di Pasar Kaki Langit. (Edi Sutrisno)

Satu titik lagi, bercokol tepat di samping gerbang masuk. Terbuat dari geribik dan bilah-bilah bambu, spot ini tak kalah instagrammable. Laiknya spot pertama, siang itu jadi point of interest, sentra bagi pengunjung untuk berfoto-ria.

Baca Juga :  Apri Sujadi Letak Batu Pertama Tanda Dimulainya Pembangunan Surau Al Khair

Pada momen-momen tertentu, Suparman menjelaskan bahwa Pasar Kaki Langit menyuguhi pengunjung dengan aneka hiburan rakyat. Satu yang ajeg tampil adalah pertunjukan gejog lesung yang digawangi ibu-ibu. Di lain waktu, muncul pula grup keroncong.

“Semua orang boleh beratraksi di sini, sepanjang itu isinya seni bernafaskan budaya nusantara. Intinya, pengunjung, sambil kulineran, berbonus sajian hiburan tradisi,” urainya.

Pasar Kaki Langit sejatinya berada di Desa Blingo, Mangunan, Kabupaten Bantul, Jogjakarta, sebuah desa yang hampir seluruh permukaan tanahnya dipenuhi hutan pinus. Dari kota, dapat digapai dalam hitungan satu jam.

Sebelum bermetamorfosa menjadi magnet destinasi digital, desa ini telah eksis menjadi salah satu desa wisata berbasis masyarakat terdepan di Jogjakarta. Auranya makin melambung ketika anak-anak muda yang tergabung dalam Generasi Pesona Indonesia (GenPI), binaan Kementerian Pariwisata RI, mencetuskan ide membuat Pasar Kaki Langit, Desember tahun lalu. Menteri Pariwisata RI Arief Yahya bahkan sempat mampir dan menyegel Pasar Kaki Langit sebagai satu dari lima destinasi digital pionir nasional.

Menteri Pariwisata RI Arief Yahya ketika membuka Pasar Kaki Langit, Desember silam. (GenPI Jogjakarta)

Sejak itu, Pasar Kaki Langit booming dan efeknya merembes ke semua sendi dan sudut desa.

“Pasar Kaki Langit ini katalisator. Kami tidak mengubah orisinalitas Desa Wisata Kaki Langit. Karena di situ justru letak kekuatannya. Kehadiran pasar yang kami gagas, lebih kepada bentuk upaya kami memicu desa wisata ini menjadi destinasi digital sehingga mendapat coverage dalam spektrum yang lebih luas dan menginternasional lewat basis media sosial yang kami punyai. Ending-nya, wisnus dan wisman berdatangan,” jelas Nunung Elizabeth, Koordinator GenPI Jogjakarta.

Nunung meyakini, Pasar Kaki Langit yang telah di-make up dalam kemasan segar dan atraktif mampu menggerek pergerakan wisatawan dalam angka yang lebih besar. Apalagi, sejak puluhan tahun, lokasi Pasar Kaki Langit berada di kawasan strategis yang dikepung oleh seabrek destinasi wisata, semisal Hutan Pinus Asri, Sendang Mangunan, Watu Goyang hingga Lintang Sewu.

Penasaran? Ayo, singgahi Pasar Kaki Langit kalau tengah beranjangsana ke Jogjakarta. (Edi Sutrisno)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *