free page hit counter
AnambasOpini

“Anambas kaya sumber daya alam, tidak kalah dengan Daerah lain“

beritakepri.id, ANAMBAS – Sejak zaman dahulu, Masyarakat selalu hidup dengan kepercayaan kalau Anambas punya kekayaan alam yang melimpah. Dari ajaran leluhur sebagai pelaut yang menyebut Nenek Moyang Ku Seorang Pelaut, yang dipenuhi hamparan laut yang sangat luas, kebanyakan orang Anambas pasti mengaku bangga dengan keindahan dan kekayaan alam daerah ini. rabu, (10/07/2019)

Kepercayaan ini harus rajin-rajin direvisi atau dicek kebenarannnya, bukan malah terus menerus diucapkan layaknya ilmu/mantra. Bisa jadi sudah tidak relevan lagi di zaman yang makin maju ini. Entah sudah habis, atau malah sudah dikuasai asing. kali ini, marilah kita sama-sama merefleksikan diri, untung-untung bisa mencari solusi bagi situasi yang disebut sebagai “kutukan sumber daya alam” ini.

Ibarat seorang anak yang terbiasa dengan harta keluarganya yang melimpah, begitu hartanya habis atau orangtuanya meninggal, mereka tidak bisa menghasilkan apa-apa.

Contoh di atas bisa dikatakan tepat untuk menggambarkan kondisi dengan sumber daya alam melimpah. Anambas katanya kaya, kalau cuma mengandalkan Sumber Daya Alam (SDA) nya, malah bisa jadi berantakan. Ini karena SDA sifatnya sangat akan habis. Misalnya Ikan. Napoleon (Ketepas), bisa naik bisa turun, tergantung faktor-faktor eksternal seperti hubungan bilateral Indonesia dengan negara-negara Hongkong atau negata tetangga. Intinya, tidak selamanya solusi buat jadi kaya itu dengan menjual SDA yang dimiliki. Bisa untung, tapi sifatnya sementara.

“Kalau tidak di kelola dengan baik bisa jadi bahaya”

Secara akal memang masyarakat bisa jadi kaya dengan menjual hasil-hasil alam yang dimiliki. Tapi pada kenyataannya, hanya pihak-pihak tertentu saja yang biasanya menikmati. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Kondisi ini juga bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi. Masyarakat cuma fokus sama SDA besar, kebutuhan lain terbengkalai, sehingga menggampangkan untuk impor. Kualitas Sumber Daya Manusia juga tidak ditingkatkan, karena asumsinya “udah kaya untuk apa belajar?”.

Baca Juga :  Aksi Bersih-bersih, Ronald : Istri Bupati Dan Istri Wabup Anambas Juga Ikut Hadir.

Karena SDM kurang buat mengelola SDA sendiri, akhirnya pemerintah memutuskan menarik investor seluas-luasnya.

Kalaupun ada pikiran buat mengelola SDA itu, tapi kalau SDM-nya terbatas ya terpaksa minta bantuan asing, pilihannya mungkin menarik investor misal buat membangun pabrik pengelolaan SDA. Sedangkan masyarakat Anambas Kebanyakan nelayan dan susah mencari ikan, karena sudah dibawa angin ke negeri tetangga.

“Kutukan” lain yang katanya rawan terjadi di daerah-daerah seperti SDA ini adalah konflik sipil, memeperebutkan kekuasaan, korupsi, dan lain-lain.

Penduduk yang hidup di daerah kaya, kemungkinan rebutan SDA itu jauh lebih besar dibanding daerah yang biasa-biasa saja. Awalnya konflik kekuasaan, lalu akhirnya ke konflik bersenjata. Hasil penjualan SDA bukannya dipakai buat meningkatkan kualitas SDM tapi malah buat mendukung kepentingan konflik dan politik tertentu.

Saking percayanya kalau SDA kita melimpah, kita sampai lupa kalau kualitas SDM justru belum mumpuni buat bersaing secara Nasional.

(n)
(BK/Lionardo)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *