International University Of Africa.

beritakepri.id, BINTAN — Sebanyak 6 mahasiswa asal Kepri yang mengenyam pendidikan ilmu agama di International University Of Africa kekurangan stock bahan pangan dan butuh bantuan serta uluran tangan pemerintah. Ke 6 mahasiswa yang kuliah dengan beasiswa prestasi itu, adalah Muhammad Syarif Hidayatullah Alhasymi salah satu Mahasiswa asal Bintan, Nur Paizil Bahri dari Anambas, Zaki Taufiqurahman dari Batam, Kholid Ja’far dari Kota Batam, Erik Jailani dari Kota Batam dan Riska Nur Latifa dari Natuna.

Muhammad Syarif Hidayatullah Alhasymi salah satu Mahasiswa asal Bintan kepada wartawan mengatakan, saat ini kondisinya kekurangan bahan makanan akibat suasana politik, ekonomi dan Pandemi Covid-19 di Sudan.

Kondisi ekonomi dan pandemi Covid-19 yang mengakibatkan negara tersebut melakukan lockdown, membuat kota Khartoum ibukota Sudan saat ini sangat mencekam.

“Kami sangat kesulitan mendapat bahan makanan, dan persediaan stock pangan kami juga sudah menipis,” ujar Muhammad Syarif melalui pesan mesenger pada wartawan, Senin (1/6/2020).

Baca Juga :  Pimpinan DPRD Tanjungpinang Terima Gelar Adat dari LAM

Ke 6 mahasiswa ini juga mengatakan, jika selam ini pihaknya, juga tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah daerah maupun Pemprov Kepri. Bahkan ke 6 mahasiswa itu, mengaku tidak pernah diperdulikan, bahakan diketahui keberadaan mereka oleh pemerintah daerah di Sudan.

“Maaf cakap kami 6 orang dari Kepri yang ada disini merasa tidak dipedulikan pemerintah daerah dan tidak diketahui keberadaan kami disini,” jelasnya.

Suasana tidak menentu di negara Sudan sebut Muhammad Syarif terjadi sejak 2019 lalu ketika pemerintahaan Presiden Umar Bashir lengser. Akibatnya, politik memanas, ditambah lagi krisis ekonomi dan Pandemi Covid-19, yang mengakibatkan harga barang dan kebutuhan pokok di Sudan melambung tinggi.

“Kondisi ini membuat mahasiswa dari Kepri itu mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Kini bekal kami terbatas sedangkan bantuan sangat minim,”ujarnya.

Baca Juga :  Rumah Quran dan Tahfidz S. Abdurrahman M.S. II Diresmikan

Pria berusia 20 tahun yang akrab disapa Dayat ini juga menceritakan, kondisi hidupnya yang memprihatinkan bersama lima rekan lainnya didalam Asrama di kota Khartoum ibukota Sudan.

Mewakili putra daerah yang mengemban bangku kuliah di Sudan, Muhammad Syarif berharap perhatian dari pemerintah daerah khususnya provinsi Kepri.

“Kami meminta bantuan bahan pangan dari pemerintah provinsi Kepri,”kata Mahasiswa Jurusan Strata di Fakultas Syari’ah dan Hukum ini.

Dayat menambahkan bahwa mereka merasakan Ramadan dengan nuansa yang cukup berbeda dari sebelumnya. Karena Ramadan kali ini tidak lagi dapat mereka laksanakan di kampung halaman bersama keluarga tercinta.

Mereka tidak dapat melaksanakan Salat Tarawih dan hanya berada di asrama karena sejak 18 April lalu diberlakukan lockdown. Begitu juga perayaan lebaran juga masih dalam kondisi yang sulit dan hanya seadanya saja.

Baca Juga :  Sekda Kepri Jalani Rapid Rapid Test Lagi, Inilah Hasilnya

Meski demikian, mereka tetap bersukur atas bantuan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Khartoum dan juga Persatuan Pelajar Indonesia (PPI Sudan) yang juga berkalaborasi bersama Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqoh Muhammadiyah (LazisMu Sudan).

Keduanya telah melakukan upaya demi meringankan beban para mahasiswa Indonesia di Sudan dengan memberikan paket bantuan berupa sembako, perlengkapan kesehatan dan paket berbuka puasa.

Akan tetapi, bantuan tersebut hanya mampu mencukupi untuk jangka waktu tertentu, mengingat terbatasnya anggaran dan sumber daya yang ada.

“Besar harapan kami mahasiswa yang berada di Sudan ini berharap ada perhatian dari Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau serta mendapat solusi terbaik,” ucapnya. (BK/PM/R)

Memuat...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here